27 Januari 2010

TK ALAM


PROPOSAL PEMBANGUNAN SAUNG DAN GAZEBO SEKOLAH ALAM
YAYASAN SENTRA DAKWAH HIDAYATULLAH MEDAN

A. DASAR PEMIKIRAN
1. Pendidikan terbaik hendaklah menteladani apa yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah SAW. Pada saat itu para sahabat belajar di sebuah tempat yang beratapkan pelepah kurma. Tetapi gurunya memiliki kualifikasi nomor satu, yaitu Baginda Rasulullah SAW sendiri. Beliau mengajar dengan contoh atau suri tauladan. Karenanya pendidikan yang terbaik adalah jika para guru dan pendidiknya bisa menjadi contoh atau teladan yang baik. Tempat boleh jadi sederhana, tetapi para peserta didik harus dibentuk agar berperilaku dan berakhlak mulia. Dengan kata lain pendidikan yang baik tidaklah ditentukan oleh sarana gedungnya, tetapi lebih pada kualitas guru, metoda pendidikan yang diiterapkan oleh guru serta kurikulum yang ditunjang oleh kelengkapan buku atau bahan ajar yang memadai sebagai gerbang ilmu. Dan ternyata orang-oraang yang yang dididik oleh Rasulullah SAW berhasil menjadi " Khaira Ummah" ( Ummat terbaik ) dan berhasil menjadi pemimpin - pemimpin yang membawa rahmat bagi semesta alam. Padahal sekolah mereka di bawah pohon di dekat Oase
. Kalaupun ada gedung, itu hanyalah bangunan sederhana 3x4 m , yaitu rumah Arqam Ibnul Arqam.

2- Pada umumnya ruang kelas yang ada di sekolah- sekolah era sekarang ini dikelilingi oleh tembok yang membuat peserta didik tidak bisa melihat keluar. Sehingga ada jarak antara para peserta didik dengan alam bebas. Di dalam kelas anak-anak cukup belajar dengan buku dan ucapan-ucapan guru. Boleh jadi anak-anak sudah mendengar nama - nama pohon mahoni, durian dan lain -lain, tetapai anak - anak tidak tahu pohon mahoni dan durian itu seperti apa? Ya karena di halaman sekolah atau di kebun sekolah tidak ada pohon mahoni ataupun durian. Yang terjadi kemudian adalah sejenis verbalisme belaka. Verbalisme dalam pendidikan barangkali bukan merupakan dosa , tetapi itu adalah sebuah kesalah kaprahan.

3. Pendidikan yang ada selama ini mematikan daya kritis dan kreativitas anak-anak. Sejak duduk di bangku Taman- Kanak-Kanak hinggga Perguruan tinggi anak- anak kita seolah dilarang kritis dan krreatif. Juka ada anak-anak SD atau TK yang kritis akan diangggap anak nakal, si pembuuat onar dan lain sebutan megatif ,, hhanya karena anak - anak menanyakan sesuatu yang mereka tidak ketahui dan mereka harusnya tahu.

4. Ada sebuah kejadian tentang anak gedongan yang selalu diajak ke Super Market . Ketika anak tersebut ditanya dari asalnya telur ? Anak tersebut menjawab dari Super Market . Mengapa terjadi demikian ? Ya , karena anak tersebut tidak pernah melihat ayam bertelur .Tidak hanya itu, di tempat lain banyak anak- anak pengusaha peternakan , tetapi mereka tidak pernah melihat seperti apa sapi, domba dll. karena di sekolah tidak pernah ada hari tertentu untuk mengenalkan anak - anak dengan lingkungannya. Padahal dalam teori pendidikan dikatakan : " Sekali melihat itu lebih berkesan daripada seribu kali mendengar".

5. Pada kenyataannya alam begitu banyak menyediakan inspirasi bagi ilmu pengetahuan. Di alam terdapat alat peraga pendidikan. Di alam ada obyek penelitian dan sarana pengembangan kepribadian yang sangat lengkap dan mewah. Kisah gravitasi oleh Issac Newton terjadi ketika dia duduk di bawah pohon apel. Hukum gaya angkat air oleh Archimiides terjadi ketika dia mandi dan ia menekan - nekan gayungnya didalam air. Frekwensi dan panjang gelombang oleh Enstein didapat ketia ia mengamati perubahan warna cahaya matahari pada pagi, siang dan sore hari. Konsep pondasi cakar ayam di peroleh dari pengamatan terhadap akar pohon kelapa di tepi laut. Dan masih banyak lagi penemuan - penemuan yang kesemuanya dii dasarkan da bersumber dari pengamatan di alam.

6. Alam kita Indonesia memiliki banyak potensi. Para pujanggga menyebutnya Zamrud Katulistiwa. Namun ironisnya pendidikan dan dunia sekolah di negeri ini menjauhkan ppeserta didiknya dari alam dan lingkungannya dan membatasi sekolah mereka dengan kelas yang di kelilingi dinding dinding sempit.

7. Dengan melihat realitas diatas maka kami memandang perlu untuk membangun sekolah alam dan kami akan memulainya dari tingkatan yang paling rendah yaitu Taman - Kanak- Kanak.

B. TUJUAN

Tujuan ditulisnya proposal ini adalah :
1. Memberikan gambaran kepada asyarakat Medan Khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya bahwa, betapa pentingnya didirikan Sekolah Alam di Kota Medan dengan Konsep Pendidikan Ala Rasulullah SAW dengan pendekatan alam sebagai media pembelajaran sekaligus penyedia inspirasi ilmu pengetahuan. Alam sebagai alam peraga , alam sebagai obyek penelitian, dann alam sebagai sarana pengembanngan kepribadian yang lengkap.

2. Mengajak Pemerintah dan Swasta , instansi sipil, BUMN dan perusahaan - perusahaan melalui program CSR nya , Lembaga Amil Zakat melalui dana Sabilillah nya, serta para dermawan untuk turut mengambil bagian, partisipasi dan kontribusi dalam mewujudkan proyek tersebut dalam rangka melahirkan generasi yang cerdas, mandiri dan berkhlaq mulia.

C. NAMA PROYEK

Nama proyek ini adalah : " Pembangunan Gazebo daan Saung Sekolah Alam Yayasan Sentra Dakwah Hidayatullah Medan "

D. LOKASI PEMBANGUAN

Pembangunan Sekolah Alam ini akan menggambiul lokasi Kampus Sentra Dakwah Hidayatullah Medan Jl. Mawar Gg. Benteng / Jl. Sejati Gg. Kasih Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Polonia Meda. Luas area ini adalah kurang lebih dua hektar.

E. STRUKTUR KEPANITIAAN

1. Ketua :Choirul Anam S. Sos. I
2. Bendahara : Ibnu Rusydi
3. Sekretaris : Heri Kusmiran SE
4. Kepala Proyek : Sriyono S.Pd
5. Anggota : Dra. Sri Rifiana
: Alia Tanjung
: Fiman Hadait Munte ST.
: Aswin Saolin SE
: Aiman Syah


F. ANGGARAN BIAYA

Diperkirakan pembangunan Gazebo dan sekolah alam ini akan menelan biaya "Dua Puluh Juta Rupiah" . Biaya ini belum termasuk sarana bermain dan pemasangan daya listrik.

G. PENUTUP

Demikian Proposal ini kami buat semoga menjadi perhatian kita semua kemudia menjadi bahan pertimbngan untuk bisa semaksimall mungkin di bantu. Semoga Allah meringankan beban kita semua. Atas Bantuan dan partisipasi semua pihak , kami ucapkan ribuan terimakasih semoga menjadi amal jariyah.



MEDAN, 30 DESEMBER 2009
YAYASAN SENTRA DAKWAH HIDAYATULLAH
PANITIA PEMBAGUNAN SEKOLAH ALAM

TTD.

CHOIRUL ANAM S. SOS.I
Ketua



REKAAPITULASI ANGGARAN
PEMBANGUNA GAAZEBO DAN SAUNG SEKOLAH LAM
YAYASAN SENTRA DAKWAH HIDAYATULLAH MEDAN


1. Pekerjjaan Tapak pondasi Rp. 1.054.000,-
2. Pekerjaan lantai Rp. 5.754.000,-
3. Pekerjaan dinding Rp. 3.664.000,-
4. Pekerjaan Rangka Atap Rp. 3.356.000,-
5. Finishing Rp. 410.000,-
6. Ongkos Tukang Rp. 5.000.000,-
JUMLAH Rp. 21.597.000,-


GAMBAR RENCANA GAZEBO DAN SAUNG
SEKOLAH ALAM SENTRA DAKWAH HIDAYATULLLAH














26 Januari 2010

PEMBANGUNAN KAMAR MANDI DAN TEMPAT WUDHU'

Setelah penambahan teras Mushalla Al- Hidayah, Yayasan sentra Dakwah Hidayatulllah memerlukan Tempat wudhu yang permanen agar para jama'ah yang ingin shalat di tempat ini merasa nyaman karena ketersediaan sarana wudhu' dan kamar mandi yang memadai Pembuatan teras Mushala itu sendiri sudah mencapai 90 persen, masih dibutuhkan dana kurang lebih 2 juta rupiah untuk finishing. sedangkan untuk jendela dan dan pintu mUshalla masih menunggu uluran tangan dan partisipasi semua pihak. untuk Jerjak atau Terali besi di butuhkan dana 2 juta juga, selain pintu dan jendelanya sendiri mebutuhkan dana 1, 5 juta.
walaupun hal itu semua bisa menjadi hambatan untuk kenyamanan bagi para jama'ah, apalagi untuk pengajian orang tua maupun TK dan TQA, masih jauh dari memadai, namun pengurus tetap semangat untuk menggiatkan kegiatan di Kampus Sentra Dakwah Hidayatullah ini , utamanya kegiatan - kegiatan yang lebih banyak menggunakan mushalla sebagai tempatnya.

kebutuhan untuk segera membangun kamar mandi dan tempat wudhu menjadi sangat urgen. Alhamdulillah, akhirnya juga bisa dilakukan walaupun di cicil.


Pemasangan keramik kamar mandi misalnya , masih terbengkalai karena kurangnya dana. tetapai Alhamdulillah , karena sesungguhnya pembangunan kamar mandi ini dan Tempat wudhu ini sudah mencapai kurang lebih 60 % .

Pemasangan keramik masih menggu tambahan keramik untuk kamar mandi dan tempat wudhu. Pemlesteran dinding pagar belakang mushalla masih perlu dana banyak untuk menyelesaikannya sehinga nampak rapi dan bersih, enak di pandang dan nyaman bagi para jama'ah yang datang dan shalat di tempat ini.

Untuk pembangunan kamar mandi dan tempat wdhu itu sendiri sudah memakan biasa kurang lebih 20 jt rupiah. Itupun tempat wudhu yang ada baru untuk jama'ah laki-laki, dan untuk jama'ah wanita , masih perlu dana pembangunan kamar mandi dan tempat wudhu dana kurang lebih sepuluh juta.
Untuk itu diperlukan dukungan semua pihak , bagaimana penyediaan sarana Wudhu dan kamar mandi ini bisa di selesaikan. Dengan dimikian Yayasan Sentra Dakwwah Hidayatullah Medan ini bisa melayani ummat sebaik mungkin.

Jika ketersediaan Air Wudhu dan Sarananya sudah memadai, insya Allah gerakan dakwah yang akan di komando dari tempat ini bisa kelihatan gaungnya. Masyarakat sekitar sudah merasakan manfaat kehadiran Yayasan ini walaupun sarana masih terbatas.

Tentu dibutuhkan jiwa dermawaan bagi kita semua, karena sesungguhnya Ummat Islam Sumatera Utara ini, khusunya Medan, sangat besar jumlahnya, dan banyak yang di takdirkan oleh Alllah menjadi The Have
Kalau tugas ini bisa di anggkat srcara bersama-sama, seberat apapun tugas ini akan menjadi ringan. Karena sebenarnya kita memilki jumlah penduduk muslim yang besar di Medan ini.
maslahnya adalah apakah memang kita punya kepedulian terhadap nasib ummat Islam yang selalu terbelakang ini, karena kekikiran ummat Islam sendiri.
Sekali Lagi bisa di catat nomor rekening Yaysan ini di Dasbord Blog ini jika anda ingin mengambil peranan Dalam memajukan Dakwah dan Pendidikan.

22 Januari 2010

JANGAN TERTIPU LAGI


Oleh: Choirul Anam


Ini sebenarnya adalah cerita yang sudah klasik. Karena sudah sering terjadi , sudah banyak informasinya, meskipun demikian masih juga tetap ada yang mendapatkan hal yang sama. Ada juga yang masih tertipu, walaupun banyak yang sudah tahu. Tetapi bukan itu yang menjadi titik persoalannya. Saya ingin menjadikan ini menjadi bahan renungan bersama tentang hal lain menyangkut sikap mental kita yang terkadang seperti itu. Oleh karena itu baca terus tulisan saya ini.
Ketika itu yang namanya Hand phone masih agak langka, teman saya, katakanlah namanya si Fulan, membeli HP Nokia entah tipe berapa saya lupa, yang jelas harganya mahal, bentuknya besar , design masih sederhana apalagi fiturnya dan suaranya. Tetapi teman saya itu sudah dianggap modern oleh kawan – kawan yang lain termasuk saya. Saya sendiri kepingin juga punya HP seperti itu, tetapi untuk membelinya waktu itu, masih pikir-pikir dulu, karena harus nabung dan saving dulu agak lama baru bisa. Apalagi orang seperti saya sebagai pekerja social dan dakwah. Karena memang waktu itu, yang namanya HP masih mahal, bahkan untuk memiliki nomor ataupun kartunya saja harus mendaftar dulu, melengkapi data, baru dua atau tiga bulan kemudian keluar kartu atau nomor kita.
Ada hal yang menarik untuk dijadikan bahan renungan , meskipun itu juga hal yang tidak baik bagi teman saya itu dan mungkin juga bagi banyak orang lain yang mengalami hal yang sama. Suatu haari ,teman saya itu mendapat SMS dari seseorang yang tak di kenal. SMS itu berbunyi : “ Selamat Anda mendapat Undian Mobil dari Grapari Telkomsel, untuk Informasi lebih lanjut Anda bisa menghubungi PT GRAPARI Telkomsel di 0217xxxxx atau 081346xxxxxx.
Karena informasi seperti di SMS itu bagi teman saya adalah hal yang sangat baru dan belum pernah kejadian , atau sudah pernah kejadian pada orang lain tetapi belum sampai informasinya kepada teman saya, maka teman saya itu menjadi sangat gembira dan antusias sekali untuk melacak informasi tersebut . Siapa yang tidak mau memiliki mobil ? semua orang mau. Apalagi ini tidak membeli, tetapi hadiah gratis dari Telkomsel. Luar biasa jingkrak – jingkraknya teman saya itu. Alhasil teman saya itu pun menghubungi nomor yang di sebutkan itu.
Untuk nomor yang di sebutkan pertama, berulangkali teman saya menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Nada sambung ada tetapi tidak ada yang menjawab. Sepertrinya sudah di sengaja , itu adalah trik belaka. Saking penasarannya teman saya itu, maka ia pun tidak mau putus asa, dia hubungi nomor yang kedua. Dan ternyata nyambung. Lucunya dan lihainya si penipu di telpon itu, supaya ada kesan sungguhan dia buat dialong di dalam telepon genggam itu pun seperti dalam suasana panitia undian yang lagi mendiskusikan : apakah betul teman saya itu berhak memperoleh hadiah Mobil itu atau tidak . Sehinggga teman saya itu tambah yakin bahwa ini betulan, bukan bohongan. Luar biasa hasil dari dialong itu adalah teman saya berhak memiliki mobil itu dengan syarat mau membayar biaya ekspedisinya dan membelikan pulsa untuk komunikasi dalam memandu pengantaran mobil ketempat tujuan. Teman saya itu menyetujuinya . Dia membelikan pulsa yang nilainya ratusan ribu rupiah untuk di sebutkan nomornya kepada orang tersebut. Di tambah uang lima juta untuk biaya ekspedisi, yang di transfer ke nomer rekening yang ditunjukkan.
Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak karena sehari itu dia sudah kenyang dengan berita akan dapat hadiah mobil. Tidur tidak menjadi kebutuhan karena yang terbayang adalah mengendarai mobil baru keliling kampung.
Tetapi kegembiraan yang meluap-luap itu berangsur surut ketika ternyata berita tentang mobil itu tidak terdengar lagi di hari besoknya. Teman saya mencoba terus menghubungi nomor tadi, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Sekarang teman saya itu baru sadar , bahwa dia sedang di tipu. Dan....................setelah itu teman saya itu seperti setengah tidak sadar. Linglung, sock dan menyesal luar biasa, mengapa bisa terjadi. Uangnya hilang tak kembali, pulsa diberikan kepada orang yang tidak jelas, dan mobil itu...........................tidak kunjung datang.
Coba kita renungkan.......mengapa hal itu bisa terjadi? Ya ...............karena membayangkan apa yang akan di peroleh lewat janji janji SMS itu. Janji itu yang memang menggiurkan, memenuhi selera kita , menjawab kenutuhan kita, apalagi di sampaikan dengan gaya dan cara yang meyakinkan. Walaupun itu adalah tipuan belaka.
Tetapai bagaimana dengan orang yang betul – betul akan akan memberi sesuatu yang sangat menarik dan dijamin tidak menipu ? coba kita renungkan, jika ada orang kaya mengatakan kepada Anda, sedang Anda yakin tentang kejujurannya’ dia mengatakan : ” berilah si fulan ini dan itu besok engkau akan kuberi sesuatu sebagai gantinya yang lebih baik daripadanya”, apakah Anda akan enggan menuruti kemauannya? Saya yakin sedetik pun Anda tidak akan terlambat memenuhi keinginannya sebab Anda akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang anda berikan karena anda yakin bahwa yang berjanji itu orang yang tidak pernah berbohong. Sedangkaan kepada yang jelas – jelas bohong pun kita rela berkorban dan rela kehilangan.
Sekarang mari kita rasakan , Bagaimana sikap kita sesungguhnya jika yg menjanjikan kepada kita itu adalah Allah Azza Wajalla Pemilik langit dan bumi Dzat Yang Maha Agung Maha Pengasih dan Maha Kaya yang selalu Memenuhi JanjiNya ? Allah berfirman :
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْراً وَأَعْظَمَ أَجْراً– المزمل : ﴿٢٠﴾
“Dan kebaikan apa saja yg engkau perbuat utk dirimu niscaya kamu memperoleh nya di sisi Allah sebagai balasan yg paling baik dan yg paling besar pahalanya.” ( QS. Al-Muzzammil : 20 )
Allah tidak akan menipu kita . Allah akan memenuhi janjiNya kepada kita. Masihkan kita kita tidak percaya kepada Allah ? Kita yakin kepada Allah atau Manusia? Kepada Manusia yang jelas – jelas menipu kita, kita masih percaya juga. Tetapi kepada Allah SWT yang tidak pernah menipu, dan selalu memenuhi janjiNya kepada hambanya, kita belum juga percaya ?
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً وَاللّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ – البقرة : ﴿٢٤٥﴾
“ Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” QS. Al-Baqarah : 245 )
Orang yg berinfak di jalan Allah seakan-akan memberi pinjaman kepada Allah padahal Dia adalah Maha Kaya dan Maha Pemberi. Pilihan kata “qardh” tentu karena begitu sangat mulianya kedudukan orang yg berinfak di jalan Allah. Di samping kata “qardh” membawa makna hutang piutang yg berarti Allah ‘Dzat yg tidak menyelisihi janji-Nya’ pasti membayar hutangNya tersebut.
Di ayat lain Allah menegaskan: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg disediakan untuk orang-orang yg bertakwa. orang-orang yg menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yg menahan amarahnya dan mema’afkan oranglain. Allah menyukai orang-orang yg berbuat kebajikan.” .
Karena itu bersegeralah saudaraku menuju Surga yg memang diperuntukkan Allah bagi segenap hamba-Nya yg bertakwa yg di antara sifat-sifat mereka adalah menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit.
Tidakkah kita ikut merenungkan senandung syair Mahmud Hasan Al Warraq yg berkata “Kurenungkan tentang harta dan penimbunannya ternyata apa yg tersisa itulah yg bakal binasa. Sedang yg kunafkahkan di jalan kebaikan baik secara ma’ruf atau ihsan maka dialah yg kekal dan karenanya aku dibalas saat semua orang diberi balasan.” Al Hasan Al Bashri berkata “Sejahat-jahat teman adl uang dan harta-benda. Keduanya tidak akan bermanfaat untukmu kecuali ketika keduanya berpisah denganmu.”
Harta adalah ni’mat , tetapi dia juga sebatas titipan yang bisa menjadi fitnah. Barangsiapa takut kepada Allah dalam masalah harta lalu membelanjakannya sesuai dgn yang diridhai-Nya memberi makan fakir miskin serta mengeluarkannya untuk menolong agama Allah dan meninggi-kan kalimat-Nya niscaya Allah akan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya Allah akan menjaganya dan memberkahi keluarga dan anak-anaknya. Duhai alangkah bahagianya hamba ini bahagia di dunia juga bahagia di akherat. Dan kebahagia-an bukanlah sesuatu yg diperjual-belikan. Ia adl anugerah Allah bagi hamba-Nya yg ta’at dan memenuhi perintah-Nya.
Dan berinfak di jalan Allah adalah suatu perdagangan yg pelakunya tak akan pernah merugi sepanjang masa. Ia adalah perdagangan yg mengalirkan ridha Allah dan anugerah-Nya yg luas. Lihat .
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ- فاطر : ﴿٢٩﴾”
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” QS. Fathir : 29 )
Suatu kali ada seorang Salaf yg berthawaf di Ka’bah seraya berulang-ulang membaca do’a “Ya Allah jagalah diriku dari sifat kikir ya Allah jagalah diriku dari sifat kikir.” Sehingga ada yg menegur wahai hamba Allah apakah engkau tidak mengetahui selain do’a ini? Ia menjawab sesungguhnya Allah berfirman:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ – الحشر : ﴿٩﴾
Sebaliknya orang yg menimbun hartanya dan tidak mau menafkahkan sebagian “Dan siapa yg dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yg beruntung.” ( QS. Al-Hasyr : 09 )
Orang ini berfikir : “ daripadanya kelak pada Hari Kiamat Allah akan mengalungkan harta saya yg saya bakhilkan tersebut di batang leher dengan emas dan perak yg telah dipanaskan dalam Neraka Jahannam dahi lambung dan punggung kemudian dibakar dan diseterika?”
Adapun keberuntungan atau faedah menafkahkan harta di jalan Allah sangat banyak. Pertama : Allah menjamin nafkah orang tersebut. Dalam hadits Qudsi disebutkan “Wahai anak Adam berinfaklah niscaya Aku nafkahmu.”
Kedua : mendapatkan kebaikan saat tibanya Hari Penyesalan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa bersedekah senilai satu biji kurma dari hasil kerja yg baik ‘dan Allah tidak menerima kecuali yg baik-baik’ maka sungguh Allah menerimanya dgn Tangan KananNya lalu merawatnya sebagaimana salah seorang dari kamu merawat anak kuda atau untanya sehingga seperti gunung. Karena itu bersedekahlah !.”
Ketiga : bersedekah bisa menghapuskan dosa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Puasa adalah benteng sedangkan sedekah melenyapkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”
Keempat : nama harum di tengah-tengah masyarakat. Orang yg senang berinfak dan menyelesaikan kesulitan orang lain akan menjadi buah bibir dalam hal kebaikan. Berbeda dengan orang yg kikir ia akan menjadi tumpuan kebencian orang lain karena hanya menumpuk harta bendanya untuk dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Celakalah hamba dinar celakalah hamba dirham ..“.
Kelima: berinfak adalah salah satu akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara perbuatan yg sangat beliau cintai adalah memberi bahkan memberikan sesuatu yang sangat beliau butuhkan sendiri seperti pakaian yang sedang beliau kenakan. Demikian menurut hadits riwayat Bukhari dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu Anhu.
Keenam : Berinfak menyebabkan rezki bertambah berkembang dan penuh berkah. Ketujuh: Sedekah menyebabkan pemiliknya mendapat naungan pada Hari Pembalasan. Kelak pada Hari Pembalasan saat kesulitan manusia memuncak dan matahari didekatkan dengan ubun-ubun manusia. Ketika itulah orang-orang yg suka bersedekah mendapat jaminan. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu disebutkan ada tujuh golongan manusia yg akan dinaungi Allah pada hari yg tiada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah “Laki-laki yg bersedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yg dikeluarkan oleh tangan kanannya.”
Kedelapan: Kecintaan Allah dan kecintaan manusia terhadapnya. Orang yang suka memberi akan dicintai orang lain sebab secara fithrah manusia mencintai orang yang berbuat baik padanya. Seorang penyair bersenandung “Berbuat baiklah kepada manusia niscaya engkau menaklukkan hatinya. Sungguh kebaikanlah yg menakluk-kan manusia. Berbuat baiklah jika engkau bisa dan kuasa krn tidak selamanya orang kuasa berbuat baik.”
Kesembilan: Kemudahan melakukan keta’atan. Allah menolong orang yg suka bersedekah dalam melakukan berbagai keta’atan sehingga ia merasa mudah melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman :
فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ﴿٧﴾
“Adapun orang yg memberikan dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yg terbaik maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yg mudah“. ( QS. Al-Lail : 5-7 )
Melalui tulisan ini kami mengajak kepada pembaca semua untuk mengambil peranan, menyisihkan donasi untuk turut berpatisipasi memberi kontribusi bagi tegaknya syari’at di bumi, dengan menyisihkan sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita, untuk kepentingan Dakwah dan pembangunan Sarana Pendidikan , Pengembangan Pesantren , Pencerdasan Ummat lewat lembaga yang kami kelola :


YAYASAN SENTRA DAKWAH HIDAYATULLAH
JL. MAWAR GG. BENTENG / JL. SEJATI GG. KASIH , KEL. SARI REJO KEC. POLONIA MEDAN SUMATERA UTARA
SK. MENTERI HUKUM DAN HAM RI NO. AHU-2313.AH.01.04Tahun 2009
AKTE NOTARIS : HJ. MARIAMA SH NO: 36 .
REK. MUAMALAT NO: 0000098120
Web : http//:sentradakwah-hidayatullah.blogspot.com
Konfirmasi donasi : 081346320765

Mohon di rekomendasikan kepada siapa saja , kirimkan no HP ataupun Email sebanyak – banyaknya kepada kami untuk kami hubungi. Mudah-mudahan Allah menggolongkan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yg suka bersedekah. Amin..

17 Januari 2010

SEBAB KEMUNDURAN KAUM MUSLIMIN

MUQADDIMAH

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ،

Segala puji hanya milik Allah I Rabb alam semesta, dan mudah-mudahan shalawat beriring salam senantiasa tercurah kepada rasulullah Muhammad r, juga kepada keluarga, para sahabat dan siapa saja yang memberikan wala` (loyalitas) kepada beliau.

Selanjutnya,

Sesungguhnya kemunduran kaum muslimin merupakan problema yang sangat sulit dan membingungkan. Dan tidak diragukan bahwa kemunduran ini diakibatkan oleh faktor-faktor dari dalam maupun dari luar.

Karena itu, menyelidiki sebab-sebab kemunduran tersebut dan tidak melalaikannya barang sedikit pun, adalah suatu langkah pertama untuk mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan datangnya kenyataan memprihatinkan (kemunduran), yang sekarang kita rasakan bersama pada berbagai daerah di dunia Islam.

Catatan ini merupakan ringkasan untuk mengetahui sebab-sebab tadi. Karena jika sebab-sebab sudah diketahui, insya Allah I kita bisa mencari jalan keluarnya.

SEBAB KEMAJUAN KAUM MUSLIMIN, HANYA KEMBALI KEPADA ISLAM:

Penyebab kemajuan Islam secara garis besar hanya kembali kepada agama Islam. Seandainya bukan karena khilaf (perselisihan) yang terulang kembali, yang merayapi kaum muslimin sejak akhir khilafah Utsman dan pada akhir khilafah Ali, pastilah mereka telah menyempurnakan penaklukan dunia, dan tak ada seorang penghalang pun yang mampu menghalangi mereka.

KAUM MUSLIMIN TELAH KEHILANGAN SEBAB YANG DULU MEMBUAT JAYA SALAF (PARA PENDAHULU) MEREKA:

Seandainya Allah I menjanjikan izzah (kejayaan atau kekuatan) atas kaum beriman dengan sekedar nama tanpa adanya amal, tentu kita bisa bertanya: Dimanakah Izzah kaum beriman yang terdapat pada ayat di bawah ini?!

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ [المنافقون/8]

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Saudaraku...

Renungkanlah! Jika Allah I Memfirmankan ayat di bawah ini,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ [الروم/47]

“Sesungguhnya Kami telah Mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa.[1] Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum: 47) Dengan makna: Bahwa Dia bakal menolong mereka tanpa ada keistimewaan apa pun, selain status mereka yang beragama Islam... pastilah sangat pantas bagi kita untuk mengherankan diri dari kebinasaan yang menimpa kaum muslimin ini setelah adanya janji pertolongan yang jelas di atas.

Tetapi nas-nas yang terdapat dalam Al-Quran bukan seperti ini maksudnya. Karena Allah I tidak pernah menyalahi janji-Nya, dan Al-Quran juga tak pernah berubah. Tetapi kaum musliminlah yang telah berubah. Allah I telah memperingatkan mereka akan hal ini. Dia Berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ [الرعد/11]

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra`du: 11)

Ketika kaum muslimin telah merubah apa yang ada pada diri mereka, maka yang sangat mengejutkan adalah ketika Allah I tidak merubah apa yang ada pada mereka. Juga menjadi sangat mengherankan ketika Allah I tidak merubah kejayaan dan kemuliaan mereka itu dengan kehinaan dan kerendahan. Justru tak adanya perubahan itu merupakan perkara yang menyalahi keadilan Ilahi.

Mana mungkin anda melihat suatu umat yang ditolong Allah I tanpa amal?!

Mana mungkin kebaikan melimpah atas mereka seperti yang menimpa nenek moyang mereka, padahal mereka telah duduk terpaku dan berhenti total dari segala kemauan keras yang dulu dijalankan oleh nenek moyangnya?! Tentunya hal ini juga menyalahi hikmah ilahiyah. Karena Allah I Dialah yang Maha perkasa dan Maha Bijaksana.

Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah…

Ketahuilah, seandainya Allah I menolong suatu makhluk tanpa ada amal sedikit pun dari makhluk tadi, pastilah Dia I telah menolong rasul-Nya “Muhammad” tanpa amal pula. Dan tentunya Dia tidak Memerintah beliau untuk keluar berperang, berjuang dan bermati-matian. Juga tidak memerintahnya untuk mengikuti undang-undang alam dalam mencapai tujuan.

Allah I Berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة/111]

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

Sekarang, manakah kondisi kaum muslimin dari sifat yang terdapat dalam kitabullah ini?!

Dimanakah keadaan mereka dibandingkan para pendahulu mereka yang dulu saling berlomba mendapatkan kematian demi memperoleh syahadah. Bahkan salah satu penunggang kuda mereka maju menyerang sambil mengatakan, “Sesungguhnya saya benar-benar mencium bau wangi surga.”

Tetapi pada hari ini, kaum muslimin atau kebanyakan mereka telah kehilangan semangat yang dulu terdapat pada nenek moyang mereka. Justru yang memiliki semangat ini adalah para musuh Islam. Padahal kitab suci mereka tidak pernah menyuruh mereka untuk itu.

Anda mendapati para pasukan mereka berhamburan mendatangi medan kematian secara berlomba-lomba. Lihatlah! Negara Jerman kehilangan sekitar dua juta prajurit. Dan orang-orang Prancis kehilangan satu juta empat ratus ribu (1400,000) prajuritnya. Mereka juga mengeluarkan harta yang sangat banyak untuk itu, hanya Allah I yang tahu berapa jumlah harta tersebut.

Karena itu jangan heran jika Allah I memberikan nikmat, kejayaan, dan kekayaan ini kepada mereka. Sementara Dia Mengharamkan kaum muslimin dari itu semua.

Allah I telah Berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ [الحج/40]

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Dia juga Berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد/7]

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Kita semua mengetahui, bahwa Allah I tidak membutuhkan pertolongan siapa pun. Tetapi “maksud menolong Allah I” pada ayat ini adalah mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Tetapi kaum Muslimin atau kebanyakan mereka, selalu menyia-nyiakan perintah yang terdapat dalam kitab sucinya. Mereka hanya berpedoman dengan kondisi mereka sebagai kaum muslimin yang ahli tauhid untuk mewujudkan datangnya pertolongan ini. Mereka menduga bahwa tauhid saja sudah cukup tanpa harus berjihad. Baik berjihad dengan jiwa maupun harta.

Di antara mereka bahkan ada yang hanya berpedoman pada doa dan mubahalah kepada Rabbul Izzah. Karena hal itu dianggapnya lebih mudah ketimbang membunuh atau mengeluarkan harta. Seandainya sekedar dengan doa bisa mencukupkan kita dari jihad, pastilah nabi r, para sahabat, dan salaf umat ini, hanya cukup dengan doa pula.

Saudaraku...

Ketahuilah! Mereka semua adalah kelompok yang doa mereka lebih dikabulkan oleh Allah I dibanding doa kita. Seandainya cita-cita bisa diraih hanya dengan doa dan dzikir, tanpa amal dan perjuangan, pastilah undang-undang alam menjadi berkurang, dan syariat menjadi batal.

Allah I juga tidak akan berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى [النجم/39]

“Sesungguhnya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Juga tidak akan Berfirman,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [التوبة/105]

“Katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. At-Taubah: 105)

SEBAB TERBESAR MUNDURNYA
KAUM MUSLIMIN

Kebodohan dan kurangnya ilmu:

Di antara sebab terbesar bagi mundurnya kaum muslimin adalah kekurangan ilmu. Faktor ini lebih membahayakan dibanding kebodohan yang sederhana (al-jahlu al-basiith). Karena orang yang bodoh, jika Allah I mendatangkan seorang mursyid (pembina) yang pandai kepadanya, dia bakal mentaati sang mursyid tersebut dan tidak menentangnya. Sedangkan orang yang mempunyai sedikit ilmu, maka dia tidak merasakan hal itu dan tidak menerima jika dikatakan dia tidak tahu.

Rusaknya akhlaq:

Di antara sebab terbesar yang menyebabkan mundurnya kaum muslimin, adalah hilangnya akhlaq. Hal ini dengan hilangnya banyak keistimewaan yang diperintahkan oleh Al-Qur`an kepada kaum muslimin. Juga dengan hilangnya azimah-azimah (kemauan keras) yang dibebankan para salaf kepada umat ini. Padahal dengan azimah tadi mereka bisa meraih kemenangan yang telah mereka capai. Dan akhlaq dalam membentuk umat, sangat jauh lebih baik dibanding ilmu pengetahuan.

Pengecut dan kekalutan:

Di antara penyebab terbesar bagi kemerosotan kaum muslimin adalah sifat pengecut dan selalu ketakutan, padahal dahulu mereka menjadi umat yang paling berani dan tidak takut mati. Satu orang dari mereka bisa mengalahkan sepuluh orang musuh atau bahkan sampai seratus orang. Tetapi fakta sekarang membuktikan, bahwa kebanyakan kaum muslimin telah takut akan mati. Dan rasa takut seperti ini tidak akan berkumpul dengan Islam dalam satu hati.

Kaum muslimin telah melupakan firman Allah I yang berbunyi,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا [النساء/104]

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya. Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa`: 104)

Jadi, kita mestinya paling pantas untuk tidak takut mati di jalan Allah I. Sebab kita mengharap dari Allah I hal-hal yang tidak diharap dan dibayangkan oleh orang-orang kafir itu.

Putus asa dan tidak memiliki harapan:

Sekarang, telah tergabung bersama sifat pengecut dan takut mati yang telah menimpa kaum muslimin tadi... sifat putus asa dan tidak memiliki harapan kepada Allah I.

Bahkan di antara kaum muslimin sendiri, ada beberapa kelompok yang sangat meyakini bahwa kaum barat adalah yang paling tinggi dalam segalanya. Dan sesungguhnya tidak ada cara sedikit pun untuk mengalahkan mereka. Padahal ini adalah keyakinan yang diharamkan. Karena Allah I telah Berfirman bahwa Dia pasti menolong kita,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ [الروم/47]

“Sesungguhnya Kami telah Mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepada kaum itu dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup jelas). Lalu Kami Melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa.[2] Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum: 47)

Ini adalah janji dari Allah I. Bagaimana mungkin kita berputus asa dari rahmat Allah I.

Allah I pasti menolong dan memenangkan agama-Nya. Dia adalah sebaik-baik penolong. Tetapi Allah I meminta kita untuk mengerjakan beberapa sebab. Yaitu sebab-sebab yang telah dilaksanakan nabi Muhammad r dan para sahabat sebelum kita.

Dan hendaklah kita mengingat kembali firman Allah I dalam surat Ali Imran: 173 yang berbunyi,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ [آل عمران/173]

“Yaitu orang-orang yang mentaati Allah dan rasul, yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka. Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)

Juga firman-Nya pada surat yang sama,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [آل عمران/139، 140]

“Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, karena kalian-lah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kalian orang-orang yang beriman. Jika kalian (pada perang Uhud) mendapat luka, sesungguhnya kaum (kafir) pada perang Badar juga mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan serta kehancuran itu, kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran; juga supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir. Supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 139-140)

Cinta dunia:

Diriwayatkan dalam sunan Abi Dawud dari Tsauban secara marfu`,

((يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))[3]

“Hampir seluruh umat saling memanggil (untuk menghancurkan kalian) seperti orang-orang dalam kondangan yang saling memanggil untuk memakan di suatu nampan besar. Maka seorang sahabat bertanya: Apakah jumlah kita saat itu sedikit? Rasulullah r menjawab: Tidak! Justru kalian pada hari itu sangat banyak. Tetapi kalian bagaikan buih dalam air bah. Dan Allah I pasti akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian. Serta meletakkan penyakit wahan dalam hati kalian. Seorang sahabat bertanya: Wahai rasulullah! Apakah wahan itu? Beliau menjawab: Cinta dunia dan takut mati.”

Dalam hadits ini rasulullah r memberitahu kita bahwa akan datang pada kaum muslimin, suatu hari yang mereka menjadi sasaran empuk untuk dimakan. Seluruh tangan menyerang mereka dari berbagai sisi. Sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini. Dan sebab terjadinya hal ini bukan karena kecilnya jumlah kita. Jumlah kita justru sangat besar. Tetapi jumlah yang besar ini tidak berguna sedikit pun bagi kita. Karena banyaknya jumlah tidak akan bermanfaat tanpa adanya kualitas yang baik. Sebagaimana kammiyah (jumlah yang besar) tidak pernah kaya dari kaifiyah (tata cara).

Kita mendapati bahwa sebab datangnya kelemahan... padahal jumlah kita sangat besar, adalah mencintai kehidupan dunia dan kenikmatannya yang hina. Serta mengutamakan dunia tersebut atas beramal demi agama Allah I. Lebih mengutamakannya atas beramal untuk meninggikan kalimatullah. Dan membenci kematian meski kematian itu di jalan kebenaran, karena saking serakahnya terhadap kehidupan dunia ini.

Kehilangan tsiqah (rasa percaya diri):

Juga di antara penyebab kemunduran kaum muslimin, adalah hilangnya rasa percaya diri terhadap diri sendiri. Penyebab ini merupakan penyakit sosial yang paling parah, juga merupakan penyakit rohani yang sangat menghancurkan. Dan tidaklah penyakit ini menimpa seseorang, kecuali ia bakal binasa karenanya.

Semua orang tahu, bahwa kekuatan maknawi (rohani) adalah kepala segala pengobatan. Dan di antara penyebab kesembuhan seseorang adalah keinginannya untuk sembuh. Maka, mana mungkin masyarakat Islam menjadi baik, jika seluruh penduduknya meyakini bahwa mereka tidak baik (pantas) untuk menjadi sesuatu pun, dan tidak mungkin ada sesuatu yang bisa diperbaiki oleh tangan mereka. Juga keyakinan buruknya, bahwa seandainya mereka berupaya segigih apa pun atau hanya duduk termenung, mereka tetap tidak akan mampu menghadapi kaum barat itu.

Sering bertikai dengan sesama:

Sesungguhnya di antara penyebab terbesar bagi kemunduran dan kegagalan kaum muslimin, adalah pertikaian yang sering terjadi di antara mereka. Sebagai ganti bertikai dengan para musuh, mereka justru sibuk bertikai dengan sesama dan melancarkan banyak tipu daya terhadap sebagian muslim yang lain.

Penyakit ini merupakan perkara terbesar yang bisa menghancurkan kekuatan, persatuan, dan sikap tolong menolong. Dan cukuplah bagi anda untuk merenungi surat Al-Anfal ayat 46 di bawah ini, agar menjadi jelas bagi anda betapa besar bahaya penyakit tersebut. Allah I Berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [الأنفال/46]

“Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya. Janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan. Serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)

Intinya, pertikaian itu menimbulkan banyak kerugian yang besar seperti yang kita baca pada ayat mulia di atas. Seandainya kita menelitih secara baik dengan mata kita, ke barat atau ke timur, niscaya kita mendapati bahwa pertikaian sesama Muslim ini terjadi di mana-mana di hadapan mata kita. Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Sesungguhnya yang wajib bagi kaum muslimin saat ini adalah kembali kepada puncak-puncak kejayaan. Serta maju ke depan seperti umat-umat lainnya yang telah maju. Yaitu dengan mengorbankan harta dan jiwa. Inilah yang diperintahkan Allah I kepada kita secara berulang-ulang dalam Al-Qur`an. Seperti dalam firman-Nya,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ [آل عمران/142]

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum tampak (muncul) bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum tampak orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142)

Juga firman-Nya,

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [التوبة/88]

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taubah: 88)

Maka... tidak mungkin bagi kaum muslimin dan tidak mungkin pula bagi umat yang lain, untuk meraih kesuksesan dan kemajuan kecuali dengan pengorbanan, seperti yang telah dilakukan para pendahulu kita sebelumnya. Jika suatu umat sudah mempelajari ilmu ini, kemudian mengamalkannya, niscaya menjadi mudah bagi mereka untuk meraih segala ilmu dan pengetahuan. Juga menjadi mudah bagi mereka untuk memetik segala hasil dan tujuan.

Jika kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam membangkitkan azimah (kemauan yang kuat) dan mengerjakan segala yang diperintahkan kitab suci mereka, niscaya sangat mungkin bagi mereka untuk mencapai kedudukan yang sudah dicapai oleh negeri-negeri barat dan timur, seperti ilmu pengetahuan dan kemajuan yang tinggi. Juga mampu untuk melindungi rahasia kejayaan mereka, yaitu agama Islam yang lurus.

Sebab, mereka adalah manusia dan kita juga manusia. Hanya saja kekurangan kita saat ini terletak pada amal, kesungguhan, pengorbanan dan pemberian. Dan satu-satunya yang membinasakan kita adalah kemalasan, hilangnya harapan, dan sikap pesimis.

Marilah kita bersama-sama mengibaskan debu keputus asaan ini. Marilah kita maju ke depan. Dan harus kita ketahui, sesungguhnya kita bisa mencapai segala cita-cita dan keinginan, jika kita mau beramal, tekun, terus maju, dan mewujudkan syarat-syarat iman yang terdapat dalam firman Allah I di bawah ini,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [العنكبوت/69]

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Sumber: materi daurah di ma`had Umar bin Al-Khattab Surabaya, diterjemahkan oleh Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc. M.Pd.I

16 Januari 2010

TARTIL QUR'AN

Tartil Al-Quran

Membaca Al Quran dengan tartil artinya membaca dengan menghadirkan hati (al-qira’atu ma’a hudhuri al-qalbi).

Al-Khazin mengatakan, “Ketika Allah memerintahkan dengan qiyamul lail diikuti dengan tartil Al-Qur’an, sehingga memungkinkan orang yang shalat dengan menghadirkan hati, tafakur terhadap hakikat dan makna ayat. Ketika sampai pada mengingat Allah, hatinya merasakan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya. Ketika menyebut janji dan ancaman, dia akan takut dan penuh harap. Ketika menyebutkan kisah dan perumpamaan, dia mengambil pelajarannya. Maka, hatinya tersinari dengan marifat kepada Allah. Membaca dengan cepat menunjukkan akan ketidaktahuan maknanya. Disini jelas bahwa maksud dari ‘tartil al-Quran’ adalah menghadirkan hati ketika membacanya”.

Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam membaca al-Qur’an dengan perlahan-lahan. Keluarnya huruf terucapkan dengan jelas. Tidak melewati ayat rahmat kecuali berhenti dan mohon kepada Allah, dan tiada melewati ayat siksa kecuali berhenti dan minta perlindungan Allah darinya.


لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهَ . إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ . فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ . ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (القيامة : 16-19)

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sungguh atas tanggungan Kami penjelasannya.” (QS al-Qiyamah : 16 - 19).


إِنَّ الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا جَلاَؤُهَا؟ فَقَالَ : تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ وَذِكْرُ الْمَوْتِ (رواه البيهقي)

“Sesungguhnya hati-hati bisa berkarat sebagaimana besi.” Maka ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa penghilangnya?” Rasulullah menjawab, “Membaca al-Qur’an dan mengingat mati.” (HR al-Baihaqi).

Mengingat Allah (dzikrullah)


Dzikrullah akan menyelamatkan seseorang dari badai keraguan, was-was, kecemasan, kegoncangan dan segenap penyakit jiwa lainnya. Dengan selalu mengingat Allah hati seorang menjadi hidup. Dzikrullah dapat mendatangkan ketenangan, ketentraman, keyakinan dan kedamaian di dalam jiwa.


فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ (البقرة : 152)

“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al Baqarah/2 : 152).


Orang-orang beriman dan tenteram hatinya karena mengingat Allah. Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (QS ar-Ra’du : 28).


Dzikrullah juga dapat membangkitkan keberanian, keteguhan, dan semangat juang, karena ia menyadari akan keikutsertaan Allah dalam dirinya. Kesadaran ini selanjutnya akan melahirkan potensi dahsyat yang dapat menggerakkannya untuk menghadapi segala tantangan dan melewati semua hambatan dengan penuh keyakinan dan ketenangan.


Ketika Musa dihadapkan oleh kepanikan kaumnya karena akan tersusul oleh pasukan Fir’aun, sementara di hadapannya terbentang lautan yang tidak bertepi, “Kemanakah kita akan lari?”


فَلَمَّا تَرَآءَ الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوْسَى إِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ . قَالَ كَلاَّ إِنَّ مَعِيْ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ . فَأَوْحَيْنَآ إِلىَ مُوْسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ (الشعراء : 61-62)

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa : Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab : Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petujuk kepadaku. Lalu Kami wahyukan kepada Musa : Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS asy-Syu’ara : 61-62).


Orang-orang yang apabila diancam orang lain dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang telah berkumpul untuk memerangi kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, (perkataan) itu justru menambah iman mereka berkata, ‘Allah cukup bagi kami, dan Ia sebaik-baik penjaga’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah. Mereka tidak disentuh oleh bahaya apapun karena mereka mencari ridha Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang sangat besar. Yang demikian itu, tidak lain hanyalah syetan yang hendak menakut-nakuti pengikutnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika memang kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran 173-175).

MISSI MUJAHID DAKWAH



Oleh: Dr. Abdul Mannan

Misi Mujahid dakwah adalah amar ma’ruf nahyi munkar, menegakkan kebenaran dan menghindari kemungkaran, di mana pun berada dan bagaimanapun keadaannya. Menyuruh berbuat baik jelas tidak ringan, apalagi mencegah berbuat munkar, jauh lebih berat lagi. Konsistensi dan teladan seorang mujahid dakwah jelas dituntut, baik di rumah tangganya sendiri, di tengah masyarakat, di hadapan penguasa Negara, dan di teratak pertarungan ideology. Dahsyat memang! Tapi semua itu harus ia jalankan demi memperoleh ridha dari Sang Penguasa Langit dan Bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Kata seorang sufi kepada anak didiknya, “Engkau lebih baik di benci oleh semua makhluk dai alam semesta dari pada di benci Allah SWT. Bagitu pula engkau lebih mulia di cintai Allah SWT dari pada di cintai makhlluk yang durhaka.

Pekerjaan dakwah akan diridhai Allah SWT jika didasarkan atas niat karena Allah SWT. Mulai dari memungut sampah di tepi jalan, hingga menegakkan Khilafah Islamiyah. Semua itu dakwah. Itulah peradaban Islam.

Jika dakwah didasari atas dimensi peradaban Islam seperti itu akan mudahlah mencerna ajaran-Nya. Bukan gontok-gontokkan antara umat Islam sendiri. Gontok-gontokkan sesame Muslim bukanlah perangai Islami. Justru akan mencoreng nama baik ajaran Ialam yang mulia.

Dulu, Islam dipentaskan oleh pelaku peradaban Islam angkatan pertama, yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa SAllah (SAW) bersama para sahabatnya, dengan perilaku yang berdab berkat sentuhan iman. Kini, keberadan umat Islam marginal dan semua aspek.

Mengapa marginal? Ini terjadi karena umat Islam yang indah dan mempesona. Lunak dalam penampilan, tegar dalam pendirian, semua itu sudah pudar dari diri umat Islam. Terjadi banyak faksi dalam tubuh kaum Muslim sebagai konsekuensi pudarnya keyakinan.

Sudah waktunya umat Islam bangkit. Dari mana memulainya dan apa patokannya? Jika patokannya dimulai sejak wafatnya rasulullah SAW, lantas di beri nama apa peradaban tersebut? Bukankah peradaban itu dibangin atas dasar ide yang turun dari langit? Bukankah semua pakar peradaban, baik yag bertolak dari pemikiran religi hinggga sekuler, sepakat bahwa peradaban itu di bangun dari ajaran agama?

Dalam hal ini, Hidayatullah telah menetapkan bahwa membangun peradaban Islam dimulai sejak turunya wahyu pertam (al-Alaq). Al- Alaq mengandung metodologi ajaran “kesadaran” akan ber-tuhan dengan benar dan menyadarkan bahwa diri manusia itu penuh limitasi. Oleh karena itulah peradaban Islam dibangun atas dasar ajaran tauhid yang terus menurunkan segala aspek aturan hidup dan kehidupan.

Metode kesadaran yang dieksplorasi dari wahyu pertama ini melahirkan manusia ulung dan agung sepanjang sejarah keumatan. Para sahabat sebagai inner circle mendapat predikat ‘asyaratul kiram (sepuluh sahabat mulia) yang dijamin masuk surga tanpa hisab setelah itu empat puluh sahabat yang lain, dan seratus lima belas sahabat yang lain lagi.

Kader inti Rasulullah Saw tersebut merangkai kekuatan antara Mujahidin (dari Makkah) dan Anshar (penduduk madinah) untuk menjadi satu kekuatan di bawah komando Rasulullah Saw. Kekuatan ini terbukti mampu membebaskan Makkah dari kesyirikan.

Kekuatan ini muncul dari kajian wahyu yang pertama yang refleksinya memancar pada kekuatan spiritual yang di bangun melalui qiyamul lail, tartitul Qur’an, dan dzikir yang kontinyu. Tiga sarana pemberdayaan spiritual ini melahirkan jiwa yang sabar (konsisten) dalam berjuang, hijrah, dan tawakal.

*Sahid Juni 2009